Jogja Financial Festival 2026: BI, OJK, dan Komdigi Bahas Masa Depan Ekonomi Digital, AI, dan Kripto
Baca dalam 60 detik
- Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 tercatat 5,61% dengan inflasi terkendali di 2,42%, menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian global.
- OJK mencatat lebih dari 21 juta akun kripto di Indonesia, didominasi generasi muda, mendorong perlunya literasi keuangan digital yang lebih kuat.
- Stafsus Presiden Yovie Widianto mengingatkan agar AI tidak menggantikan sentuhan manusia dalam kreativitas, sementara pemerintah fokus pada keamanan siber dan infrastruktur digital.

Jogjakarta Financial Festival 2026 yang digelar di Jogja Expo Centre (JEC) pada Jumat (22/5/2026) menjadi ajang diskusi strategis antara regulator, pemerintah, dan pelaku industri. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aida S. Budiman, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria, serta Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif Yovie Widianto hadir membahas masa depan ekonomi digital, kecerdasan buatan (AI), dan aset kripto.
Dalam sambutannya, Aida S. Budiman memaparkan bahwa ekonomi Indonesia tetap solid meskipun dibayangi ketegangan geopolitik global. Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 mencapai 5,61% secara tahunan, sementara inflasi hingga April 2026 tercatat rendah di 2,42%. Indikator ini menunjukkan bahwa sektor usaha masih bergeliat dan daya beli masyarakat terjaga. Pencapaian ini menjadi modal penting bagi Indonesia untuk terus mendorong transformasi digital di berbagai sektor.
Di sisi lain, Friderica Widyasari Dewi menyoroti pentingnya literasi keuangan, khususnya bagi generasi muda yang kini mendominasi pasar keuangan. OJK mencatat bahwa jumlah akun kripto di Indonesia telah melampaui 21 juta, dengan mayoritas berasal dari kalangan muda. Menurutnya, kemudahan akses teknologi membuat masyarakat rentan terhadap risiko penipuan dan kerugian investasi. Oleh karena itu, edukasi keuangan harus berjalan seiring dengan inklusi agar masyarakat tidak hanya memiliki akses, tetapi juga pemahaman yang memadai.
- Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026: 5,61% (year-on-year)
- Inflasi April 2026: 2,42%
- Jumlah akun kripto di Indonesia: lebih dari 21 juta, didominasi usia muda
- Penetrasi internet Indonesia: 86%
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan bahwa transformasi digital telah menjadi pilar pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan penetrasi internet mencapai 86%, digitalisasi mendorong transaksi ekonomi digital yang masif. Namun, ia juga mengingatkan bahwa ancaman siber dan kejahatan digital di era AI masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah. Penguatan infrastruktur keamanan siber menjadi prioritas untuk melindungi data dan transaksi masyarakat.
Sementara itu, Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif Yovie Widianto, yang juga seorang musisi senior, memberikan perspektif unik tentang peran AI dalam kreativitas. Ia mengakui bahwa AI dapat mempercepat proses kreatif dan memberikan presisi, namun menekankan bahwa teknologi tidak dapat menggantikan rasa dan sentuhan manusia dalam berkarya. Yovie mengajak generasi muda untuk tetap menjaga orisinalitas dan tidak sepenuhnya bergantung pada AI, terutama dalam seni dan budaya. Penampilannya yang memadukan diskusi serius dengan permainan piano sukses menghibur ribuan peserta festival.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto (IAKD) OJK, Adi Budiarso, menambahkan bahwa tingginya minat terhadap aset digital mencerminkan pesatnya ekonomi digital di Indonesia. Kemudahan akses teknologi memungkinkan masyarakat memasuki sektor keuangan, mulai dari pembayaran digital hingga investasi kripto. Namun, ia menekankan perlunya regulasi yang adaptif untuk melindungi konsumen tanpa menghambat inovasi.
Festival ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara BI, OJK, Komdigi, dan pemangku kepentingan lainnya sangat penting dalam menghadapi tantangan era digital. Ke depan, sinergi antara kebijakan moneter, pengawasan keuangan, dan pengembangan infrastruktur digital akan menentukan daya saing Indonesia di kancah global.



