AS Tunda Penjualan Senjata ke Taiwan, Fokus pada Operasi Militer di Iran
Baca dalam 60 detik
- Penundaan pengiriman senjata senilai US$14 miliar ke Taiwan dipicu oleh kebutuhan Amerika Serikat untuk memprioritaskan pasokan amunisi bagi operasi militer di Iran.
- Pernyataan Penjabat Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao di hadapan Kongres mengindikasikan bahwa jeda ini bersifat sementara dan akan dievaluasi kembali oleh pemerintahan Trump.
- Keputusan ini memicu spekulasi mengenai konsistensi komitmen AS terhadap pertahanan Taiwan di tengah meningkatnya tekanan militer China.
Washington, DC β Penjabat Menteri Angkatan Laut Amerika Serikat, Hung Cao, mengkonfirmasi bahwa penjualan senjata ke Taiwan untuk sementara dihentikan. Langkah ini diambil guna memastikan kecukupan pasokan amunisi bagi Angkatan Bersenjata AS yang tengah terlibat dalam operasi militer di Iran, yang dikenal dengan sandi "Epic Fury".
Dalam sidang dengar pendapat di hadapan Komite Angkatan Bersenjata Kongres pada Kamis (21/5), Cao menyatakan bahwa pihaknya tengah melakukan evaluasi stok amunisi sebelum melanjutkan pengiriman senjata ke Taiwan. "Saat ini kami melakukan jeda untuk memastikan kami memiliki amunisi yang cukup untuk Epic Furyβyang kami miliki dalam jumlah banyak. Namun, setelah semuanya terverifikasi, penjualan militer asing akan dilanjutkan kembali ketika pemerintahan menilai perlu," ujar Cao.
Pernyataan ini muncul di tengah kebuntuan kesepakatan senjata senilai US$14 miliar yang telah lama dinanti Taiwan. Pemerintahan Presiden Donald Trump belum memberikan komitmen final terkait realisasi penjualan tersebut, memicu kekhawatiran akan konsistensi dukungan Washington terhadap Taipei. Sementara itu, Juru Bicara Kantor Kepresidenan Taiwan, Karen Kuo, menegaskan pada Jumat (22/5) bahwa tidak ada informasi yang menunjukkan adanya perubahan kebijakan AS terhadap penjualan senjata tersebut.
Nilai paket penjualan senjata yang ditunda: US$14 miliar.
Operasi militer AS yang menjadi prioritas: "Epic Fury" di Iran.
Pernyataan resmi Taiwan: Tidak ada indikasi perubahan kebijakan AS.
Keputusan ini juga menimbulkan tanda tanya besar mengenai arah kebijakan luar negeri AS di kawasan Indo-Pasifik. Sebelumnya, Trump sempat menyatakan akan membahas masalah penjualan senjata ke Taiwan dengan Presiden China Xi Jinping dalam kunjungan kenegaraannya ke Beijing. Langkah ini dianggap sebagai penyimpangan dari sikap tradisional Washington yang enggan berkonsultasi dengan Beijing terkait urusan pertahanan Taiwan. Setelah pertemuan, Trump mengaku tidak membuat komitmen apa pun kepada Xi dan akan memutuskan nasib penjualan senjata tersebut "dalam waktu yang cukup singkat".
China, yang mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, terus meningkatkan tekanan militer di sekitar pulau tersebut dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekerasan untuk merebutnya. Di sisi lain, AS di bawah Undang-Undang Hubungan dengan Taiwan diwajibkan menyediakan alat pertahanan bagi pulau yang diperintah sendiri itu, meskipun secara diplomatis hanya mengakui Beijing.
Ketidakpastian ini berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan di Selat Taiwan. Para analis menilai bahwa penundaan pengiriman senjata dapat dimanfaatkan China untuk memperkuat posisinya, sementara Taiwan harus bergantung pada kemampuan pertahanan sendiri. Ke depan, keputusan AS akan menjadi indikator penting bagi komitmen Washington terhadap sekutunya di Asia.



