Kerugian Akibat Scam Finansial Tembus Rp9,5 Triliun, OJK Soroti Lemahnya Literasi Digital
Baca dalam 60 detik
- Otoritas Jasa Keuangan mencatat kerugian masyarakat akibat penipuan finansial mencapai Rp9,5 triliun dalam setahun terakhir, didorong oleh maraknya modus digital.
- Ketua OJK Friderica Widyasari Dewi mengungkapkan bahwa impersonation, investasi palsu, dan love scam menjadi tiga modus utama yang menyasar generasi muda.
- Pemerintah berencana membentuk Komite Nasional Kesejahteraan Keuangan untuk memperkuat edukasi publik dan menekan angka korban penipuan.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengungkapkan bahwa kerugian finansial yang dialami masyarakat akibat berbagai modus penipuan mencapai angka fantastis Rp9,5 triliun dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Jogja Financial Festival (Finfest) 2026 di Yogyakarta, Jumat (22/5/2026).
Friderica menekankan bahwa lonjakan kasus penipuan digital menjadi ancaman serius di tengah pesatnya adopsi teknologi keuangan oleh masyarakat, terutama kelompok usia muda. “Yang sudah dilaporkan hilang Rp9,5 triliun. Itu uang masyarakat, uang yang harusnya kita simpan untuk masa depan kita,” ujarnya di hadapan peserta festival.
Menurut Friderica, modus operandi pelaku penipuan kian variatif. Ia menyebutkan tiga pola yang paling marak: penyamaran identitas (impersonation), tawaran investasi bodong, serta love scam yang mengeksploitasi hubungan emosional korban. “Ada impersonation, penipuan investasi, hati-hati. Love scam juga mulai banyak,” katanya.
Untuk menekan angka kerugian, Presiden telah menginisiasi pembentukan Komite Nasional Kesejahteraan Keuangan. Lembaga ini nantinya akan fokus pada program edukasi massif agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam skema penipuan. “Bapak Presiden sudah menyampaikan akan membuat Komite Nasional Kesejahteraan Keuangan yang fokusnya bagaimana mengedukasi masyarakat supaya tidak kena scam dan uangnya hilang,” jelas Friderica.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua OJK mengingatkan generasi muda untuk mulai mempelajari pengelolaan keuangan sedini mungkin, tanpa memandang latar belakang profesi. “Apapun cita-citamu, kalian harus mengerti keuangan. Ada insinyur, doktor, hidupnya berantakan karena tidak bisa mengelola keuangan,” tegasnya.
Ia juga mengkritisi perilaku konsumtif dalam menggunakan teknologi. Menurutnya, kemudahan transaksi digital justru menjadi celah bagi penipu jika pengguna tidak memiliki literasi yang memadai. “Sekarang kalian dibombardir teknologi. Kalau tidak tahu apa yang digunakan, akhirnya pencet-pencet lalu uang hilang. Itu bahaya sekali,” ujarnya.
Friderica mendorong anak muda untuk membangun kebiasaan investasi sejak dini dengan prinsip diversifikasi. “Never put your eggs in one basket. Jadi investasi harus dibagi-bagi, bisa emas, properti, saham, reksa dana dan lainnya,” sarannya. Ia menutup dengan pesan bahwa kemampuan mengelola keuangan merupakan fondasi menuju kebebasan finansial di masa depan.



