Angka Percobaan Bunuh Diri Pelajar Korea Selatan Capai Rekor, Anggaran Kesehatan Mental Justru Dipangkas
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 709 pelajar Korea Selatan dilaporkan melakukan percobaan bunuh diri pada 2022, tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2011.
- Fenomena ini dipicu oleh paparan konten digital berbahaya dan minimnya komunikasi, sementara anggaran pusat kesehatan mental sekolah justru menyusut drastis.
- Para ahli mendesak pemerintah daerah untuk segera merekrut tenaga profesional dan membangun sistem pemantauan mandiri guna menangani krisis kesehatan mental remaja.

Korea Selatan mencatat angka mengkhawatirkan dalam kesehatan mental remaja. Kementerian Pendidikan setempat melaporkan bahwa pada tahun lalu, sebanyak 709 pelajar melakukan percobaan bunuh diri β jumlah tertinggi sejak data pertama kali dikumpulkan pada 2011. Dari jumlah tersebut, 144 di antaranya benar-benar mengakhiri hidupnya.
Fenomena ini kian memprihatinkan mengingat tren usia pelaku yang semakin muda. Jika sebelumnya mayoritas pelaku adalah siswa SMA, pada tahun lalu justru siswa SMP mendominasi dengan 391 kasus, melampaui 259 kasus dari tingkat SMA. Bahkan, 58 kasus terjadi di kalangan siswa SD, padahal pada 2011 tidak ada satu pun catatan percobaan bunuh diri di tingkat tersebut. Ironisnya, lonjakan ini terjadi di tengah menurunnya jumlah populasi anak muda dari 7,8 juta jiwa pada 2006 menjadi 5,6 juta jiwa pada tahun lalu.
Para pakar menyoroti peran konten digital sebagai pemicu utama. Profesor Hong Hyun-joo dari Universitas Hallym menegaskan bahwa anak-anak dengan gejala depresi sangat rentan meniru aksi bunuh diri atau menyakiti diri sendiri setelah menonton konten serupa di internet. βKantor pendidikan daerah harus segera merekrut tenaga profesional dan membangun sistem pemantauan serta penanganan mandiri bagi siswa yang berisiko,β ujarnya. Tren video YouTube yang menampilkan bunuh diri dan aksi melukai diri sendiri, termasuk lagu bertema bunuh diri yang viral di kalangan siswa SD, dinilai memperparah situasi. Fenomena selfie yang memperlihatkan luka gores juga menjadi tren di kalangan remaja.
Anggota parlemen dari Partai Liberty Korea, Kwak Sang-do, yang mempublikasikan data tersebut, menekankan urgensi intervensi. βKita sangat membutuhkan dukungan untuk setiap pelajar yang mengalami krisis kesehatan mental,β tandasnya. Minimnya komunikasi akibat kecanduan gawai juga disebut sebagai faktor yang memperburuk kondisi psikologis remaja.
Ke depan, para pengamat menilai pemerintah pusat dan daerah perlu segera mengevaluasi ulang alokasi anggaran kesehatan mental sekolah. Tanpa langkah konkret, dikhawatirkan angka tersebut akan terus meningkat dan menjangkiti generasi yang lebih muda.



