Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.690/US$ di Tengah Defisit Transaksi Berjalan dan Dolar AS yang Perkasa
Baca dalam 60 detik
- Rupiah ditutup melemah 0,28% ke Rp17.690/US$ pada Jumat (22/5/2026), sempat menyentuh level psikologis Rp17.700/US$.
- Bank Indonesia melaporkan defisit transaksi berjalan kuartal I-2026 sebesar US$4 miliar (1,1% dari PDB), tertinggi sejak kuartal IV-2019.
- Dolar AS bertahan di dekat level tertinggi enam pekan akibat ketidakpastian kesepakatan damai AS-Iran, membatasi ruang penguatan rupiah.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Jumat (22/5/2026) menunjukkan pelemahan signifikan, didorong oleh faktor domestik dan eksternal.
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Kurs Rupiah (penutupan) | Rp17.690/US$ |
| Depresiasi harian | 0,28% |
| Rentang perdagangan | Rp17.660 β Rp17.725/US$ |
| Defisit Transaksi Berjalan Q1-2026 | US$4 miliar (1,1% PDB) |
| Indeks Dolar AS (DXY) | 99,293 (+0,04%) |
Jakarta β Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (22/5/2026) ditutup melemah 0,28% ke level Rp17.690 per dolar AS, berdasarkan data Refinitif. Sepanjang sesi, rupiah bergerak fluktuatif di rentang Rp17.660 hingga Rp17.725/US$, bahkan sempat menembus level psikologis Rp17.700/US$. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif sehari sebelumnya saat rupiah ditutup di Rp17.640/US$.
Tekanan terhadap rupiah datang dari dalam negeri setelah Bank Indonesia (BI) merilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal I-2026. Transaksi berjalan mencatat defisit sebesar US$4 miliar atau setara 1,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini meningkat signifikan dibandingkan defisit kuartal IV-2025 yang sebesar US$2,5 miliar (0,7% PDB) dan kuartal I-2025 yang hanya US$200 juta (0,1% PDB). Defisit tersebut merupakan yang terbesar sejak kuartal IV-2019, ketika defisit mencapai US$8,04 miliar.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa meskipun defisit membengkak, secara umum masih tergolong rendah. βNeraca perdagangan nonmigas tetap membukukan surplus meskipun lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya, sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi global serta terganggunya rantai pasok perdagangan antarnegara,β ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (22/5/2026).
Dolar AS Perkasa dan Ketidakpastian Geopolitik
Dari sisi eksternal, indeks dolar AS (DXY) tercatat menguat 0,04% ke level 99,293 pada pukul 15.00 WIB. Dolar AS bertahan di dekat level tertinggi enam pekan terakhir, didorong oleh ketidakpastian hasil negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran. Washington dan Teheran masih berselisih soal stok uranium dan kendali Selat Hormuz, meskipun Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut adanya sinyal positif dalam pembicaraan.
Kondisi ini memicu volatilitas di pasar keuangan global dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Selama dolar AS masih berada di area tinggi, ruang penguatan rupiah diperkirakan terbatas.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati perkembangan negosiasi AS-Iran serta data ekonomi domestik, termasuk inflasi dan cadangan devisa, untuk mengukur arah pergerakan rupiah. BI diproyeksikan akan terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamentalnya.



