Ofcom: TikTok dan YouTube Belum Cukup Aman untuk Anak-Anak
Baca dalam 60 detik
- Ofcom melaporkan bahwa TikTok dan YouTube gagal melakukan perubahan signifikan untuk mengurangi konten berbahaya bagi anak-anak, sementara Snap, Roblox, dan Meta setuju memperkuat langkah anti-grooming.
- Regulator Inggris itu mendesak platform untuk memperketat verifikasi usia, menyusul temuan bahwa 84% anak usia 8-12 tahun masih menggunakan layanan dengan batas usia 13 tahun.
- Pemerintah Inggris sedang mempertimbangkan larangan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun, dengan konsultasi publik berakhir 26 Mei dan respons dijadwalkan pada musim panas.

Ofcom merilis laporan terbaru yang mengkritik TikTok dan YouTube karena dinilai belum cukup aman untuk anak-anak. Sementara itu, Snap, Roblox, dan Meta telah menyetujui langkah-langkah anti-grooming yang lebih ketat. Survei Ofcom menunjukkan 84% anak usia 8-12 tahun masih menggunakan setidaknya satu layanan besar dengan batas usia minimal 13 tahun.
| Platform | Langkah yang Disepakati |
|---|---|
| Snap (Snapchat) | Memblokir kontak orang asing dewasa secara default, menghentikan dorongan menambahkan orang tak dikenal, dan menerapkan pemeriksaan usia pada musim panas ini. |
| Roblox | Memungkinkan orang tua mematikan obrolan langsung untuk anak di bawah 16 tahun. |
| Meta (Instagram) | Menyembunyikan daftar koneksi remaja secara default dan mengembangkan alat AI untuk mendeteksi percakapan seksual di DM. |
| TikTok | Tidak ada perubahan signifikan; mengklaim fitur keamanan sudah memadai. |
| YouTube | Tidak ada perubahan signifikan; mengklaim pengalaman anak sudah sesuai usia. |
Ofcom menyatakan bahwa TikTok dan YouTube gagal berkomitmen pada perubahan berarti untuk mengurangi konten berbahaya yang ditampilkan kepada anak-anak. Kedua platform justru mempertahankan bahwa umpan konten mereka sudah aman. Padahal, menurut Ofcom, bukti yang ada menunjukkan sebaliknya.
Menanggapi laporan tersebut, YouTube mengklaim telah bekerja sama dengan pakar keamanan anak untuk memberikan pengalaman yang sesuai usia. TikTok menyebut kekecewaannya karena Ofcom tidak mengakui fitur keamanan yang sudah ada, seperti penghentian pesan langsung untuk pengguna di bawah 16 tahun dan pengatur waktu video pendek di YouTube.
Pergeseran Paradigma: Dari Konten Berbahaya ke Desain Produk
Konsultan media sosial Matt Navarra menilai kritik Ofcom menandai pergeseran cara pandang terhadap bahaya online. "Perdebatan lama adalah 'apakah platform cukup cepat menghapus konten berbahaya?'—yang baru bergeser menjadi 'mengapa platform menampilkannya kepada anak sejak awal?'" ujarnya. Ini menunjukkan bahwa masalah keamanan anak kini dilihat sebagai masalah desain produk, bukan sekadar moderasi konten.
Ofcom sendiri kerap dikritik karena dianggap lamban dalam menegakkan aturan keamanan online. Kepala Eksekutif Ofcom, Dame Melanie Dawes, membela langkah regulator namun mengakui pekerjaan belum selesai. "Kita bicara tentang budaya dua puluh tahun di Silicon Valley yang tidak menganggap serius keamanan; Anda tidak bisa mengubahnya dalam semalam," katanya. Ia menegaskan Ofcom siap mengambil tindakan penegakan hukum terberat jika diperlukan, termasuk investigasi formal.
Kekhawatiran tentang Verifikasi Usia
Dawes juga menyatakan keprihatinan mendalam karena perusahaan masih gagal mencegah anak di bawah umur mengakses platform. Peneliti keamanan online Prof. Victoria Baines mengatakan temuan ini tidak mengejutkan mengingat terbatasnya keberhasilan penghapusan akun di bawah 16 tahun di Australia pasca-larangan media sosial. Ia menyarankan platform mungkin perlu menggunakan data perilaku—apa yang ditonton, diinteraksikan, dan dibicarakan pengguna—untuk menentukan usia sebenarnya.
Pandangan Pakar: "Ofcom akan dinilai dari seberapa cepat ia bisa mengurangi paparan bahaya online. Regulator yang lebih kuat harus disertai larangan bersyarat pada algoritma personalisasi yang terus mendorong konten berbahaya ke remaja." — Andy Burrows, CEO Molly Rose Foundation.
Laporan Ofcom juga menyoroti perubahan yang dilakukan Snap, Roblox, dan Meta dalam mengurangi risiko grooming. Snapchat setuju memblokir kontak orang asing dewasa secara default di Inggris, menghentikan dorongan menambahkan orang tak dikenal, dan memperkenalkan pemeriksaan usia yang "sangat efektif" pada musim panas ini. Juru bicara Snapchat mengatakan langkah ini akan diterapkan sambil menjaga privasi dan koneksi dengan teman serta keluarga.
Sementara itu, Roblox akan memungkinkan orang tua mematikan obrolan langsung untuk anak di bawah 16 tahun. Meta akan menyembunyikan daftar koneksi remaja di Instagram secara default dan mengembangkan alat AI untuk mendeteksi percakapan seksual di DM.
Pemerintah Inggris memberikan dukungan penuh kepada Ofcom untuk memastikan perusahaan mencegah dan menghapus konten berbahaya. "Terlalu banyak anak masih terpapar bahaya online dan itu tidak bisa dibiarkan," kata juru bicara pemerintah. Mereka sedang mempertimbangkan berbagai opsi—dari batasan usia, jam malam aplikasi, hingga larangan total—dan akan mengumumkan langkah selanjutnya pada musim panas.
Konsultasi publik tentang larangan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun akan ditutup pada 26 Mei. Komite Pendidikan Parlemen Inggris telah menyerukan larangan tersebut dan tindakan mendesak untuk membatasi fitur yang dirancang mendorong penggunaan layar berlebihan pada anak di bawah 18 tahun. Ketua komite, Helen Hayes MP, menegaskan bahwa perusahaan media sosial tidak bisa diandalkan untuk mengatur diri sendiri. "Hanya larangan undang-undang untuk anak di bawah 16 tahun, serta pembatasan fitur adiktif dan berisiko tinggi untuk di bawah 18 tahun, yang akan melindungi anak dari bahaya," ujarnya.



