Nvidia Catat Rekor Pendapatan Lagi, tapi Investor Mulai Cemas
Baca dalam 60 detik
- Pendapatan Nvidia kuartal I/2025 melonjak 85% menjadi $81,6 miliar, laba bersih tiga kali lipat menjadi $58,3 miliar, melampaui ekspektasi.
- Saham Nvidia tetap turun 1,6% di after-hours karena investor sudah terbiasa dengan kinerja superior dan khawatir persaingan serta pertumbuhan melambat.
- CEO Jensen Huang menyebut permintaan AI 'parabolik' dan memproyeksikan belanja infrastruktur AI mencapai $3-4 triliun per tahun pada akhir dekade ini.

Ringkasan laporan keuangan Nvidia untuk kuartal yang berakhir April 2025.
| Metrik | Nilai | Perubahan YoY |
|---|---|---|
| Pendapatan | $81,6 miliar | +85% |
| Laba Bersih | $58,3 miliar | +200% |
| Dividen per Saham | 25 sen | Naik dari 1 sen |
| Pembelian Kembali Saham | £80 miliar | – |
| Proyeksi Pendapatan Q2 | $91 miliar | – |
Nvidia kembali mencatatkan rekor pendapatan dan laba pada kuartal pertama tahun fiskal 2025, menegaskan bahwa ledakan kecerdasan buatan (AI) belum menunjukkan tanda-tanda melambat. Perusahaan semikonduktor asal Amerika Serikat itu melaporkan pendapatan sebesar $81,6 miliar, naik 85% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sementara laba bersih melonjak lebih dari tiga kali lipat menjadi $58,3 miliar. Angka-angka tersebut melampaui ekspektasi analis, namun respons pasar justru dingin: saham Nvidia turun 1,6% dalam perdagangan after-hours.
Permintaan AI yang 'Parabolik'
Pertumbuhan Nvidia didorong oleh divisi pusat data yang mencatatkan penjualan kuat. CEO Jensen Huang, dalam konferensi dengan analis, menyatakan bahwa permintaan terhadap infrastruktur AI telah mencapai level parabolik. "Era AI agen telah tiba," ujarnya. Nvidia memperkirakan belanja infrastruktur AI global akan mencapai $3 triliun hingga $4 triliun per tahun pada akhir dekade ini. Untuk memperkuat kepercayaan investor, perusahaan juga menaikkan dividen kuartalan dari 1 sen menjadi 25 sen per saham dan mengumumkan program pembelian kembali saham senilai £80 miliar.
Meskipun fundamental kuat, reaksi pasar mencerminkan kejenuhan investor terhadap pertumbuhan supernormal Nvidia. Ruth Foxe-Blader, mitra pengelola Citrine Venture Partners, menyebut fenomena ini sebagai "hukum bilangan besar". "Nvidia mewakili 8% dari S&P 500. Tanpa keyakinan akan pertumbuhan parabolik berkelanjutan, sulit bagi investor untuk terlalu bersemangat, meskipun Nvidia mencetak angka luar biasa," jelasnya kepada BBC. Victoria Scholar, kepala investasi interactive investor, menambahkan bahwa investor telah "membeli rumor, menjual fakta" karena saham sudah rally menjelang rilis laba.
Persaingan dan Ketegangan Geopolitik
Kekhawatiran lain datang dari meningkatnya persaingan di pasar chip AI. Hyperscaler seperti Google, Amazon, dan Microsoft mulai mengembangkan chip mereka sendiri, yang berpotensi mengurangi ketergantungan pada Nvidia. Di sisi geopolitik, chip AI Nvidia menjadi pusat persaingan AS-China. Pada Januari, pemerintahan Trump mulai mengizinkan penjualan chip H200—semikonduktor tercanggih kedua Nvidia—ke pelanggan China dengan syarat tertentu, setelah sebelumnya dibatasi karena kekhawatiran keamanan nasional. Namun, otoritas China belum memberikan persetujuan karena ingin mendorong pemasok domestik.
Huang baru-baru ini bergabung dalam perjalanan resmi Presiden Trump ke Beijing bersama sejumlah CEO top AS, meskipun tidak jelas apakah semikonduktor dibahas. Dalam laporan kuartal ini, Nvidia tidak mengasumsikan pendapatan dari penjualan chip pusat data ke China. Huang bahkan mengakui kepada CNBC bahwa ia "sebagian besar menyerahkan" pasar China kepada raksasa teknologi lokal, Huawei.
Wawasan Analis: Alvin Nguyen, analis senior Forrester, menilai langkah Nvidia menyerahkan pasar China justru menunjukkan kepercayaan diri. "Dengan secara efektif mengecualikan China dan menyerahkan pasar itu ke Huawei, Nvidia membuktikan bahwa permintaan AI global di luar China lebih dari cukup untuk mempertahankan pertumbuhannya," ujarnya.
Ke depan, Nvidia memproyeksikan pendapatan kuartal kedua mencapai $91 miliar, menandakan optimisme berkelanjutan. Namun, tantangan dari persaingan domestik dan ketidakpastian geopolitik akan terus membayangi. Investor kini menanti apakah Nvidia dapat mempertahankan momentum pertumbuhan paraboliknya di tengah ekspektasi yang semakin tinggi.



