Bank Ina Siapkan Strategi Organik Kejar Modal Inti Rp6 Triliun demi Naik Kelas ke KBMI 2
Baca dalam 60 detik
- Target Ekspansi: PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) berkomitmen naik kelas ke kategori KBMI 2 guna mengantisipasi kebijakan OJK terkait penghapusan KBMI 1.
- Aksi Korporasi: Emiten perbankan ini akan menggelar private placement sebanyak 80 juta saham untuk memperkuat struktur permodalan pasca penurunan modal inti secara tahunan.
- Fokus Organik: Strategi pertumbuhan akan difokuskan pada penguatan internal dan koordinasi intensif dengan pemegang saham utama ketimbang melakukan akuisisi atau konsolidasi.

PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) secara resmi mengumumkan komitmennya untuk memenuhi ambang batas modal inti minimum sebesar Rp6 triliun guna naik kelas menjadi bank kategori KBMI 2, menyusul sinyal regulasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Langkah strategis ini diambil sebagai respons proaktif terhadap wacana OJK yang berencana menghapus kategori Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) 1. Per Maret 2026, Bank Ina tercatat memiliki modal inti sebesar Rp2,81 triliun. Meskipun angka ini masih berada di bawah syarat minimal KBMI 2, manajemen menegaskan bahwa koordinasi dengan pemegang saham telah dilakukan untuk menyusun roadmap pemenuhan modal yang komprehensif.
Wakil Direktur Utama Bank Ina, Yulius Purnama Junaedi, mengungkapkan bahwa perseroan memilih jalur pertumbuhan organik untuk mencapai target tersebut. Pilihan ini menunjukkan kepercayaan diri emiten terhadap performa bisnis internal dan komitmen jangka panjang para pemegang saham pengendali untuk terus menginjeksi modal di tengah dinamika industri perbankan yang kian kompetitif.
- Posisi Modal Saat Ini: Rp2,81 triliun (Per Maret 2026).
- Target Modal Inti KBMI 2: Minimal Rp6 triliun sesuai standar OJK.
- Agenda Terdekat: Private Placement maksimal 80 juta saham (1,30% dari modal disetor).
- Timeline Krusial: Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Independen pada 5 Juni 2026.
Penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau private placement menjadi instrumen utama dalam jangka pendek. Dengan nilai nominal Rp100 per saham, aksi korporasi ini diharapkan mampu memberikan bantalan likuiditas yang lebih kuat. Perlu dicatat bahwa modal inti perusahaan mengalami kontraksi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sempat menyentuh angka Rp3,35 triliun, sehingga rekapitalisasi menjadi agenda mendesak.
Selain faktor regulasi, kenaikan kelas ke KBMI 2 akan memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi Bank Ina dalam memperluas cakupan layanan perbankan digital dan penyaluran kredit. Transformasi ini dinilai penting untuk meningkatkan daya saing bank dalam ekosistem keuangan modern yang menuntut skalabilitas besar.
| Indikator | Status Saat Ini | Target KBMI 2 |
|---|---|---|
| Modal Inti | Rp2,81 Triliun | > Rp6 Triliun |
| Metode Pertumbuhan | Konsolidasi internal | Organik & Private Placement |
Kedepannya, keberhasilan Bank Ina untuk naik kelas akan sangat bergantung pada hasil RUPS mendatang dan eksekusi strategi bisnis sepanjang tahun 2026. Jika restu pemegang saham didapatkan, Bank Ina berpotensi memperkuat fundamentalnya secara signifikan, sekaligus mengamankan posisi dalam lanskap perbankan nasional yang tengah menuju simplifikasi kategori bank.



