The Devil Wears Prada 2 Dituduh 'Rasis' Beberapa Hari Sebelum Tayang di Bioskop
Baca dalam 60 detik
- Film The Devil Wears Prada 2 menghadapi tuduhan rasisme menjelang rilisnya karena penggambaran karakter asisten Andy Sachs bernama Jin Chao yang dianggap sebagai stereotip buruk orang Asia.
- Publik mengecam penggunaan nama yang terdengar seperti hinaan rasial, serta penggambaran karakter tersebut sebagai orang yang kutu buku, tidak modis, dan canggung secara sosial.
- Meskipun mendapat ulasan positif dari kritikus film tertentu, kontroversi ini diperkirakan akan memukul angka pendapatan box office di wilayah Asia Timur.

Sekuel yang telah dinantikan selama 20 tahun, The Devil Wears Prada 2, kini tengah menghadapi gelombang kecaman tajam. Film yang kembali dibintangi oleh Meryl Streep dan Anne Hathaway ini dituduh menghidupkan kembali stereotip rasis Hollywood terhadap orang Asia hanya beberapa hari sebelum perilisannya di bioskop.
Detail Kontroversi Klip Promosi:
- Karakter Baru: Helen J. Shen memerankan Jin Chao, asisten baru Andy Sachs di majalah Runway.
- Isi Cuplikan: Dalam klip tersebut, Jin Chao terlihat canggung dan membeberkan prestasi akademiknya yang luar biasa (lulusan Yale, IPK 3.86, skor ACT sempurna) untuk meyakinkan Andy.
- Masalah Nama: Banyak pengguna media sosial menyoroti bahwa pelafalan nama "Jin Chao" terdengar sangat mirip dengan ejekan rasis historis terhadap orang Tionghoa.
- Statistik Viral: Klip promosi tersebut telah ditonton lebih dari 26 juta kali dalam waktu satu minggu dan memicu seruan boikot.
Stereotip 'Kutu Buku' yang Dianggap Ketinggalan Zaman
Kritik tidak hanya tertuju pada nama karakter, tetapi juga pada penggambaran visual dan kepribadian Jin Chao. Ia digambarkan mengenakan pakaian yang tidak modis, berkacamata, dan memiliki sifat yang sangat patuh namun tidak aman (insecure) meskipun memiliki kualifikasi pendidikan tinggi dari Ivy League.
| Reaksi Kritikus & Publik | Poin Keberatan |
|---|---|
| Pengguna Media Sosial (X) | Menyebut penggambaran ini sebagai "karikatur" dan "rasisme terang-terangan" yang seharusnya sudah tidak ada di tahun 2026. |
| Shi Wenxue (Kritikus Film Beijing) | Menjelaskan bahwa narasi ini memainkan label "minoritas model" yang menggambarkan orang Asia berprestasi tinggi namun canggung secara sosial. |
| Boba Cyclist (Komentator) | Menyebut karakter tersebut bukan stereotip Asia-Amerika yang nyata, melainkan "fantasi wanita kulit putih". |
"Sangat mengecewakan melihat di tahun 2026 kita masih terjebak pada stereotip lama bahwa orang Asia itu culun atau membosankan. Nama, pakaian, dan gaya karakternya benar-benar tidak masuk akal," tulis salah satu pengguna media sosial.
Dampak Terhadap Box Office
Meskipun beberapa kritikus awal memuji film ini sebagai karya yang "tajam, cerdas, dan fenomenal", kontroversi rasisme ini diprediksi akan berdampak negatif pada pendapatan film, terutama di pasar Asia Timur. Outlet media seperti Sing Tao Daily dari Hong Kong memprediksi bahwa reputasi film ini akan merosot akibat reaksi publik yang meradang. Hingga saat ini, pihak 20th Century Studios dan para pemain utama belum memberikan pernyataan resmi terkait kontroversi ini.


