Sutradara David Lowery Tanggapi Santai Kritik untuk Film 'Mother Mary' yang Dibintangi Anne Hathaway
Baca dalam 60 detik
- Film terbaru David Lowery bersama studio A24, Mother Mary, menuai beragam reaksi dari kritikus karena perpaduan unik antara konser pop, drama, dan elemen body horror.
- Lowery tidak terlalu ambil pusing dengan ulasan campuran tersebut, menyatakan bahwa ia sengaja membuat film yang "memprovokasi" dan sadar bahwa karyanya tidak akan disukai semua orang.
- Anne Hathaway menjalani latihan intensif untuk memerankan bintang pop, memberikan penampilan epik bersama Michaela Coel yang dipuji Lowery sebagai sebuah masterclass.

Karya sinematik terbaru dari David Lowery, Mother Mary, terbukti sama memecah belahnya dengan keberanian konsepnya. Memadukan tontonan konser pop dengan fantasi gotik, drama hubungan, dan horor tubuh (body horror), film ini menampilkan Anne Hathaway sebagai artis musik visioner di ambang comeback-nya. Di saat ulasan bervariasi dari "menawan" hingga "membingungkan", Lowery tetap santai dan lebih memprioritaskan ekspresi diri di atas pujian universal.
Detail Kunci: Mother Mary
- Pemeran: Anne Hathaway (Mary) dan Michaela Coel (Sam).
- Musik Oleh: Charli XCX, Jack Antonoff, dan FKA twigs.
- Studio: A24 (menandai kolaborasi ketiga Lowery dengan studio ternama ini).
- Premis: Seorang bintang pop menjelang comeback sangat membutuhkan sebuah gaun dari mantan kolaboratornya yang kini terasing, memicu reuni yang menegangkan dan penuh nuansa horor di sebuah gudang terpencil.
Mendobrak Batasan dan Menerima Kritik
Meski mengakui bahwa dirinya adalah seseorang yang ingin menyenangkan orang lain (people pleaser) dan ingin penonton menyukai karyanya, Lowery menerima bahwa Mother Mary tidak akan cocok untuk semua orang. Baginya, tujuannya adalah membuat film yang "mendorong dan memprovokasi". Ia menyeimbangkan visi orisinal yang mendobrak batasan ini dengan proyek komersial yang lebih aman seperti remake Disney miliknya (Pete's Dragon, Peter Pan & Wendy), menghargai nilai dari kedua jalur pembuatan film tersebut.
"Saya tahu bahwa [film] ini tidak akan untuk semua orang, jadi saat saya membuat film seperti ini, sangat penting bagi saya untuk menutup mata dan fokus pada apa yang ingin saya ekspresikan... Saya menghormati fakta bahwa ini bukan untuk semua orang; itu tidak apa-apa," jelas Lowery.
Transformasi Hathaway dan Beban Ketenaran
Penampilan Anne Hathaway dipuji sebagai sebuah kelas master (masterclass). Lowery mencatat bahwa Hathaway memadatkan sepuluh tahun pelatihan menjadi bintang pop hanya dalam empat bulan agar meyakinkan saat memerankan ikon yang mampu memenuhi stadion. Sifat ketenaran pop yang intens dan menuntut fisik secara langsung menginspirasi elemen horor tubuh yang tak terduga dalam film ini. Lowery mencatat bahwa realitas tur yang melelahkan—seperti yang dilakukan oleh bintang-bintang seperti Taylor Swift dan Beyoncé—mencerminkan proses penciptaan karya seni yang menyakitkan dan terkadang melumpuhkan.
| Elemen Tematik | Wawasan Sutradara |
|---|---|
| Kemampuan Bintang Pop | Hathaway memberikan penampilan tingkat stadion yang menyaingi ikon dunia nyata, dicapai melalui apa yang digambarkan Lowery sebagai upaya yang "sangat besar". |
| Horor Tubuh (Body Horror) | Muncul secara organik sebagai metafora dari beban fisik dan emosional dalam mengekspresikan diri secara utuh serta sifat pertunjukan yang menyiksa. |
| Chemistry Antarpemeran | Dinamika antara Hathaway dan Michaela Coel mengangkat naskah secara keseluruhan, menciptakan pengalaman akting dua arah yang luar biasa. |
Menariknya, Hathaway saat ini menyeimbangkan proyek ini dengan perilisan The Devil Wears Prada 2 yang akan datang. Lowery merasa sangat terhibur karena kedua film tersebut, meskipun sangat berbeda dalam nada, memiliki benang merah tematik seputar mode, gaun, dan warna merah.


