BI Peringatkan Konflik Timur Tengah Perburuk Prospek Ekonomi Global: Pertumbuhan Turun, Inflasi Naik
Baca dalam 60 detik
- Pertumbuhan Global Melambat ke 3,0 Persen: Bank Indonesia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia 2026 dari 3,1% menjadi 3,0% akibat eskalasi konflik dan gangguan rantai pasok.
- Inflasi Global Meningkat Jadi 4,2%: Tekanan harga komoditas dan minyak mendorong kenaikan inflasi, yang pada gilirannya mempersempit ruang bank sentral global untuk melonggarkan kebijakan moneter.
- Suku Bunga AS Bertahan Lebih Lama: BI memperkirakan pemangkasan Fed Funds Rate (FFR) bakal tertunda hingga akhir 2026, memicu penguatan dolar dan aliran modal keluar dari negara berkembang.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, memperkirakan bahwa konflik di Timur Tengah yang terus bereskalasi akan semakin memperburuk prospek ekonomi global. Dalam konferensi pers daring pada Rabu (22/4/2026), Perry menyatakan bahwa perang tersebut telah mendorong kenaikan harga minyak dan berbagai komoditas dunia, serta memperdalam disrupsi rantai pasok perdagangan antarnegara. Dampaknya, prospek pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diproyeksikan melambat menjadi 3,0%—turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 3,1%.
Di sisi lain, tekanan inflasi global juga diperkirakan meningkat. BI memproyeksikan inflasi global mencapai 4,2% pada 2026, naik dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,1%. Perry menilai bahwa kenaikan inflasi tersebut akan semakin mempersempit ruang bagi bank sentral global untuk melonggarkan kebijakan moneter, sehingga berpotensi meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global. Lebih lanjut, penurunan suku bunga acuan Amerika Serikat (Fed Funds Rate/FFR) diperkirakan akan tertunda, bahkan berpotensi bertahan hingga akhir 2026. Sejalan dengan itu, imbal hasil (yield) US Treasury terus meningkat, dipengaruhi oleh proyeksi defisit fiskal AS yang lebih besar.
Dari perspektif ekonomi moneter dan perdagangan global, proyeksi BI ini mengonfirmasi kekhawatiran para analis bahwa konflik Timur Tengah—khususnya blokade di Selat Hormuz dan perang Iran-AS—telah mengubah lanskap makroekonomi secara fundamental. Kenaikan harga minyak yang berkelanjutan tidak hanya mendorong inflasi langsung (melalui harga energi), tetapi juga biaya produksi dan logistik di seluruh sektor. Disrupsi rantai pasok yang sudah rapuh pasca-pandemi semakin parah dengan penutupan jalur pelayaran kunci. Kondisi tersebut mendorong pergeseran aliran modal global ke instrumen safe-haven, terutama pasar uang AS, seiring meningkatnya preferensi investor terhadap aset aman (flight to safety). Indeks dolar AS terhadap mata uang negara maju terus menguat, sementara mata uang negara berkembang semakin tertekan.
"Perang di Timur Tengah makin memperburuk prospek ekonomi global. Memburuknya perekonomian dan pasar keuangan global tersebut mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter." — Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia
Ke depan, Indonesia dan negara berkembang lainnya menghadapi tantangan berat. Di satu sisi, mereka harus menjaga stabilitas nilai tukar dan cadangan devisa di tengah penguatan dolar dan potensi capital outflow. Di sisi lain, ruang untuk menurunkan suku bunga acuan guna mendorong pertumbuhan domestik menjadi sangat terbatas karena inflasi impor yang terus merambat. Perry menekankan perlunya penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga ketahanan eksternal, memperkuat stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik. Bagi para pelaku pasar dan investor, pesan BI jelas: ketidakpastian global belum menunjukkan tanda-tanda mereda, dan strategi hedging serta diversifikasi aset harus terus dipertajam setidaknya hingga akhir 2026—atau sampai konflik Timur Tengah menemukan titik terang penyelesaian.



