Google Kini Lebih Fokus Blokir Iklan Nakal Ketimbang Blokir Akun Pengiklan
Baca dalam 60 detik
- Google berhasil memblokir rekor 8,3 miliar iklan yang melanggar kebijakan pada tahun 2025, naik tajam dibandingkan 5,1 miliar iklan pada tahun sebelumnya berkat bantuan kecerdasan buatan Gemini.
- Meskipun jumlah iklan yang diblokir meroket, angka pemblokiran (suspend) akun pengiklan justru menurun. Google kini mengubah strategi penindakannya menjadi lebih spesifik pada tingkat materi iklan daripada langsung memblokir akun secara keseluruhan.
- Pendekatan baru yang digerakkan oleh AI ini diklaim berhasil mengurangi tingkat kesalahan blokir akun yang tidak bersalah hingga 80 persen, sembari tetap efektif menghadang serbuan konten penipuan yang dihasilkan oleh AI generatif milik peretas.

Google mengumumkan bahwa mereka telah memblokir rekor 8,3 miliar iklan di seluruh dunia pada tahun 2025, naik tajam dari 5,1 miliar pada tahun sebelumnya. Namun yang menarik, jumlah penangguhan (suspend) akun pengiklan justru menurun drastis, memicu pertanyaan mengenai pergeseran strategi penegakan kebijakan di platform raksasa pencari tersebut.
Fakta Kunci Laporan Keselamatan Iklan Google 2025:
- Peran AI Gemini: Peningkatan pemblokiran iklan didorong oleh penggunaan kecerdasan buatan (AI) Gemini, yang diklaim berhasil menangkap 99% iklan yang melanggar kebijakan sebelum sempat ditampilkan kepada pengguna.
- Perubahan Strategi: Terjadi pergeseran pendekatan penegakan aturan; dari yang tadinya memblokir secara langsung akun pelaku kejahatan siber, kini menjadi penindakan pada level materi iklan secara individual (kasus per kasus).
- Memerangi Penipuan: Dari miliaran iklan yang diblokir, sebanyak 602 juta iklan dan 4 juta akun pengiklan terbukti terkait langsung dengan jaringan penipuan (scam).
Pihak Google menjelaskan bahwa lonjakan pemblokiran iklan ini juga mencerminkan tren penggunaan AI generatif oleh para penipu untuk memproduksi konten penipuan dalam skala masif. Untungnya, model Gemini milik Google mampu mendeteksi pola di berbagai kampanye besar dan memblokirnya lebih awal.
"Kami telah beralih ke penegakan hukum yang digerakkan oleh AI yang lebih tertarget, pada tingkat yang jauh lebih terperinci dan kreatif, alih-alih menggunakan instrumen yang jauh lebih tumpul seperti penangguhan pengiklan. Pendekatan ini telah membantu mengurangi penangguhan akun yang salah sasaran hingga 80% dari tahun ke tahun," jelas Keerat Sharma, VP dan Manajer Umum Privasi & Keselamatan Iklan di Google.
Rincian Data Pemblokiran Iklan di Pasar Utama
Laporan tersebut juga merinci lanskap pemblokiran dan penegakan hukum Google di beberapa wilayah pasar terbesarnya selama tahun 2025:
| Kawasan Pasar | Statistik Penindakan Google (2025) |
|---|---|
| Skala Global | Memblokir total 8,3 miliar iklan. Penindakan ini sangat difokuskan pada penghentian materi penipuan dan konten manipulatif di awal proses pembuatan kampanye. |
| Amerika Serikat | Menghapus lebih dari 1,7 miliar iklan dan menangguhkan 3,3 juta akun. Pelanggaran terbanyak meliputi penyalahgunaan jaringan iklan, misrepresentasi, dan konten seksual. |
| India (Pasar Pengguna Terbesar) | Memblokir 483,7 juta iklan (hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya), namun angka penangguhan akun turun menjadi 1,7 juta. Pelanggaran didominasi masalah merek dagang, layanan finansial, dan hak cipta. |
Strategi pertahanan berlapis ini, termasuk wajib verifikasi identitas bisnis sebelum beriklan, dinilai sukses mencegah aktor jahat mendaftarkan akun sejak awal. Namun, Google memprediksi angka ini akan terus berfluktuasi seiring dengan kemampuan adaptasi peretas dan penipu dalam mengakali sistem di masa mendatang.



