Posisi Direktur Teknis Red Bull Terancam, Kepergian Pierre Waché Dinilai Tak Terhindarkan
Baca dalam 60 detik
- Posisi Pierre Waché sebagai Direktur Teknis Red Bull Racing berada di ujung tanduk menyusul performa sasis mobil RB22 yang sangat tidak memuaskan.
- Mobil F1 musim 2026 ini merupakan proyek pertama Red Bull yang dibangun murni tanpa fondasi desain dari Adrian Newey, dan sejauh ini gagal menyaingi Mercedes, McLaren, maupun Ferrari.
- Ketidakpuasan staf terhadap metode kerja Waché telah memicu mundurnya SDM kunci seperti Kepala Desainer Craig Skinner, yang membuat manajemen puncak bersiap mengambil keputusan pemecatan.

Posisi Pierre Waché sebagai Direktur Teknis Red Bull Racing dikabarkan semakin tertekan. Kepergian sosok asal Prancis tersebut dari struktur kepemimpinan tim tampaknya semakin sulit untuk dihindari di tengah krisis performa yang melanda.
Fakta Kunci Krisis Internal Red Bull:
- Masalah Sasis RB22: Kelemahan utama mobil musim 2026 ternyata bukan pada mesin baru Red Bull Ford seperti yang dikhawatirkan, melainkan pada sasis yang gagal tampil kompetitif.
- Era Tanpa Newey: Musim 2026 menjadi ujian sesungguhnya bagi Waché karena ini adalah mobil pertama yang dibangun murni tanpa campur tangan fondasi desain dari Adrian Newey, dan hasilnya dinilai tidak memadai.
- Eksodus Staf Teknis: Terjadi ketidaksepakatan internal mengenai metode kerja yang berujung pada pengunduran diri sejumlah staf penting, termasuk kepergian mendadak Kepala Desainer Craig Skinner sebelum musim dimulai.
Sejauh ini, belum ada tanda-tanda perbaikan jangka pendek yang dijanjikan akan datang pada sasis mobil Red Bull. Kendaraan mereka saat ini bahkan kesulitan untuk sekadar menantang McLaren dan Ferrari, belum lagi berbicara soal mengusik dominasi Mercedes di posisi puncak klasemen.
"Sekali lagi Waché gagal memenuhi ekspektasi. Masa depannya bersama tim asal Austria ini menjadi semakin buram dari hari ke hari setelah kembali memproduksi mobil yang kualitasnya sama sekali tidak cukup bagus untuk bersaing di grid depan."
Jika berkaca pada tahun lalu, Max Verstappen memang sempat berhasil menutupi kekurangan sasis RB21. Namun, masalah fundamental di awal musim tersebut pada akhirnya harus dibayar mahal dengan melayangnya peluang gelar juara dunia kelima bagi sang pembalap Belanda. Kini, dengan staf yang mulai kehilangan kepercayaan pada pendekatannya, manajemen puncak Red Bull diprediksi tidak akan ragu mengambil keputusan tegas—sama seperti saat mereka melepas mantan Prinsipal Tim, Christian Horner.
Peta Masalah Internal Red Bull Racing 2026
| Aspek Krisis | Detail Kondisi di Lapangan |
|---|---|
| Performa Kendaraan | Sasis RB22 gagal bersaing dengan Mercedes, McLaren, dan Ferrari. Sulit menemukan solusi perbaikan dalam waktu dekat. |
| Manajemen Tim | Terjadi perpecahan visi; staf teknis mulai mengundurkan diri akibat ketidakpuasan terhadap pendekatan kerja Waché. |
| Sikap Manajemen Induk | Petinggi Red Bull diyakini tidak akan ragu memecat Direktur Teknis demi menghentikan hilangnya SDM berkualitas dari tim. |



