Update Kinerja Perbankan Februari 2026: Kredit Tumbuh 9,37%, Likuiditas Solid di Tengah Volatilitas Global
Baca dalam 60 detik
- Ekspansi Kredit Terakselerasi: Penyaluran modal menembus angka Rp 8.559 triliun, didominasi oleh lonjakan signifikan pada segmen investasi dan korporasi.
- Himpunan Dana Solid: Dana Pihak Ketiga (DPK) melesat 13,18% YoY, mempertebal cadangan likuiditas industri jauh di atas ambang batas regulasi.
- Resiliensi Struktural: OJK memperkuat fundamental sistem keuangan melalui konsolidasi BPR/BPRS serta peluncuran standar penilaian risiko iklim (CBRA & SMART).

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan sektor perbankan Indonesia tetap menunjukkan performa intermediasi yang impresif hingga Februari 2026 dengan penyaluran kredit mencapai Rp 8.559 triliun, mencerminkan daya tahan industri yang kokoh di tengah dinamika ekonomi global.
Meskipun terjadi normalisasi pertumbuhan kredit dari 9,96% pada Januari menjadi 9,37% secara tahunan (yoy) di Februari, struktur permintaan pinjaman menunjukkan pergeseran ke arah produktivitas jangka panjang. Sektor investasi mencatatkan pertumbuhan ekspansif sebesar 20,72% yoy, sebuah indikator kuat bahwa kepercayaan sektor riil untuk melakukan ekspansi kapasitas produksi tetap tinggi. Tren ini selaras dengan arah kebijakan pemerintah yang mendorong hilirisasi dan penguatan industri domestik sebagai motor penggerak ekonomi nasional.
Sisi pendanaan atau funding pun memberikan sinyal positif bagi stabilitas moneter. Perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang menyentuh angka Rp 10.102 triliun membuktikan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan tetap solid. Menariknya, instrumen deposito menjadi primadona dengan pertumbuhan 18,56% yoy, menandakan preferensi nasabah terhadap instrumen yang menawarkan imbal hasil stabil di tengah ketidakpastian pasar finansial global.
- Lending Growth: Kredit Korporasi memimpin dengan kenaikan 14,74% yoy.
- Liquidity Buffer: Rasio AL/DPK di level 27,4% (Threshold: 10%).
- Capital Strength: CAR berada pada posisi 25,83%, memberikan ruang mitigasi risiko yang sangat luas.
- Credit Quality: NPL Gross terjaga rendah di level 2,17%.
Dalam perspektif operasional, bank-bank milik negara (Himbara) masih menjadi pemimpin pasar dengan pertumbuhan kredit mencapai 12,78% yoy. Dominasi ini menunjukkan peran krusial bank BUMN dalam mendukung proyek-proyek strategis nasional. Di sisi lain, OJK juga menyoroti manajemen risiko yang pruden, di mana Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada pada level 195,64%, memastikan bahwa perbankan memiliki aset likuid berkualitas tinggi yang sangat memadai untuk menghadapi skenario tekanan jangka pendek.
Selain memantau angka-angka finansial, otoritas mulai mengintegrasikan aspek keberlanjutan dalam pengawasan teknis. Peluncuran panduan Climate Risk and Banking Resilience Assessment (CBRA) menandai babak baru di mana perbankan diwajibkan mengukur eksposur risiko terkait perubahan iklim terhadap portofolio mereka. Langkah ini merupakan strategi future-proofing agar industri keuangan Indonesia memiliki daya saing standar global dan menarik investasi hijau ke depannya.
| Metrik Perbankan | Posisi Februari 2026 | Status Regulasi |
|---|---|---|
| LDR / Intermediasi | Tumbuh 9,37% (Kredit) | Sesuai Target Target |
| NPL Net | 0,83% | Sangat Sehat |
| Rasio AL/NCD | 121,29% | Jauh di Atas Threshold (50%) |
| ROA (Profitabilitas) | 2,37% | Stabil |
Menatap sisa tahun 2026, akselerasi konsolidasi industri melalui penggabungan 12 BPR/BPRS diharapkan menciptakan struktur perbankan yang lebih efisien dan kompetitif di level regional. Dengan permodalan yang tebal dan adopsi kerangka kerja risiko iklim yang sistematis, industri perbankan nasional diproyeksikan tetap menjadi pilar utama stabilitas makroekonomi, meskipun tantangan suku bunga global dan geopolitik tetap memerlukan pemantauan ketat secara real-time.



