Ancaman komputer kuantum terhadap Bitcoin seringkali digambarkan sebagai skenario kiamat digital. Namun, laporan terbaru dari ARK Invest per Maret 2026 memberikan peta risiko yang lebih granular. Masalah utamanya bukan pada protokol Bitcoin itu sendiri, melainkan pada sejarah penggunaan alamat (address behavior) oleh para penggunanya.
Secara analitis, kerentanan terjadi pada alamat di mana Public Key sudah terpapar di blockchain. Pada alamat Legacy awal (P2PK), kunci publik tersedia secara langsung. Sementara pada alamat modern, kunci publik hanya muncul saat pemilik mengirimkan dana. Komputer kuantum dengan algoritma Shor berpotensi menghitung Private Key dari Public Key yang terpapar tersebut dalam waktu singkat.
β’ Suplai Aman: 65,4% (Alamat modern/tidak terpapar).
β’ Suplai Rentan: 34,6% (Alamat kuno & penggunaan ulang).
β’ Ambang Batas Teknis: Dibutuhkan 2.330 Qubit Logis untuk membobol ECC.
ARK Invest menekankan bahwa risiko ini bersifat "statis". Artinya, pemegang koin di alamat rentan dapat dengan mudah mengamankan aset mereka hari ini dengan memindahkannya ke alamat baru yang didukung SegWit atau Taproot. Tantangan terbesarnya adalah pada "koin yang hilang" atau koin milik Satoshi yang mungkin tidak akan pernah bergerak, yang bisa menjadi target pertama bagi pemilik komputer kuantum super di masa depan.




